PENGECEKAN SUHU DI ERA PANDEMI, APAKAH PENYELAMAT ?
Pandemi Covid-19 di Indonesia hingga saat ini belum kunjung mereda. Saat ini jumlah kasus positif virus corona di Indonesia sudah mencapai angka 262 ribu kasus dengan jumlah pasien sembuh 192 ribu orang dan meninggal sekitar 10.105 orang (sumber : wikipedia). Dampak pandemi Covid-19 ini dirasakan hampir oleh semua kalangan. Contohnya saja para pedagang yang harus menutup warungnya karena sepi pelanggan, para pekerja yang di PHK, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang harus terhenti karena berkurangnya mobilitas masyarakat akibat kebijakan PSBB dan social distancing. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan dalam konverensi pers tanggal 15 April lalu bahwa puncak wabah virus corona akan mulai pada bulan Mei, dimana kasus kumulatif akan mencapai 95.000, dan berakhir pada Juli, dengan perkiraan 106.000 kasus. Pada kesempatan itu, ia menyebut pemerintah akan melaksanakan berbagai upaya agar jumlah kasus sesungguhnya tidak mencapai angka prediksi. namun pada kenyataannya, puncak pandemi tidak nampakdan jumlah kasus positif semakin bertambah.
Pemerintah beberapa waktu lalu akhirnya memberlakukan kebijakan “new normal” yang berarti masyarakat sudah bisa melakukan aktifitas seperi sebelumnya namun tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai berjalan kembali. Mall, pasar, rumah makan, supermarket, dan tempat-tempat sumber perekonomian lainnya sudah mulai dibuka kecuali aktivitas pembelajaran masih dilakukan secara daring. Kebijakan normal baru ini tentunya dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi untuk menyambung kehidupan maupun beraktifitas di luar rumah untuk melepas penat setelah berbulan-bulan berada di rumah. Protokol kesehatan diberlakukan dengan aturan wajib memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan pengecekan suhu. Langkah ini di ambil dengan harapan masyarakat yang keluar masuk suatu tempat adalah mereka yang sehat, tidak membawa virus. Tindakan ini di ambil akrena salah satu ciri-ciri seseorang positif covid-19 adalah suhu tubuh di atas 38ᵒC, demam disertai flu, batuk kering, dan sebagainya. Namun saat ini banyak kasus menunjukkan pasien positif namun tanpa gejala, bagaimana cara mendeteksi bahwa mereka positif ? apalagi kalau mereka tidak melakukan rapid tes maupun swab, bagaimana jika mereka masih bebas beraktifitas di luar dan menularkan virus kepada orang lain ?, apakah pengecekan suhu efektif ?. hal ini yang ditakutkan oleh masyarakat di era new normal saat ini. Karena beberapa waktu lalu terjadi kasus dimana seseorang terdeteksi positif hingga meninggal dunia dan sekeluarga dinyatakan juga positif virus corona tanpa gejala. Namun sayangnya mereka tidak peduli dengan himbauan isolasi mandiri dan malah sengaja jalan-jalan di tempat umum dengan melupakan protokol kesehatan dengan sengaja, mereka dengan bangga melakukannya dan bisa bebas beraktifitas karena pengecekan suhu menunjukkan suhu mereka normal. Hal itu menjadi kegelisahan masyarakat. Kebingungan terjadi dimana seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghambat penularan virus covid-19 namun ada oknum-oknum yang secara sengaja ingin menularkan kepada orang lain.
Hal yang bisa dilakukan masyarakat saat ini adalah berusaha semaksimal mungkin menjaga dirinya dan keluarganya, diharapkan masyarakat tidak terlena dengan kebijakan “new normal” dengan menunda kegiatan yang belum terlalu penting seperti nongkrong, rekreasi, shopping, dan tetap melakukan social distancing. Keluar rumah untuk hal-hal penting saja seperti bekerja dan urusan-urusan lain yang urgent dan tidak bisa dilakukan dari rumah. Keselamatan diri kita adalah tanggung jawab kita masing-masing.
Nama : Ridhwan Fajar
NIM : 20310410028
Artikel ini dibuat untuk memenuhi Tugas Sosiologi, Prodi Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
Dosen pengampu Amin Nurohmah, S.Pd., M.Sc
Komentar
Posting Komentar