TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT PARA AHLI

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT PARA AHLI 

1. Abraham Maslow

Maslow menulis tentang manusia yang sehat secara psikiatris: “Pertama dan yang paling penting adalah keyakinan yang kuat bahwa manusia memiliki kodratnya sendiri yang hakiki. Kedua, terkandung suatu konsepsi bahwa perkembangan yang benar-benar sehat, normal dan yang dicita-citakan terjadi dalam bentuk mengaktualisasikan kodrat ini, memenuhi potensi-potensi ini.”

Individu yang sehat adalah individu yang berhasil mengembangkan cintanya, bukan lagi diarahkan kedalam diri sendiri, tetapi bisa diperluas pada orang-orang lain. Individu yang sehat melihat pertumbuhan dan perkembangan orang lain menjadi sama pentingnya pertumbuhan dan perkembangan diri sendiri. Maslow menempatkan rasa tanggung jawab pada orang lain melalui hierarki kebutuhannya, terutama pada kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan. Maslow juga mengatakan bahwa pertumbuhan psikologis akan menghasilkan kesehatan psikologis, sedangkan orang yang gagal bertumbuh dengan sendirinya akan mengalami gejala patologi baik mental maupun fisik.

2. Erick Fromm

Fromm mengembangkan dan memperhalus teorinya sendiri tentang kepribadian. Sistemnya menggambarkan kepribadian sebagai yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial yang mempengaruhi individu dalam masa kanak-kanak dan juga kekuatan-kekuatan sosial yang mempengaruhi individu dalam masa kanak-kanak dan juga kekuatan-kekuatan historis yang telah mempengaruhi perkembangan spesies manusia.

Fromm mengemukakan 5 kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan kemanan, yaitu:

1. Hubungan

2. Transdensi

3. Berakar

4. Perasaan Identitas

5. Kerangka Orientasi

3. Rogers

Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan, penyapihan atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting dari pada masa lampau. Rogers tetap berfokus pada apa yang terjadi dengan kita sekarang, bukan yang terjadi pada waktu itu.

Roges memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:

a.       Keterbukaan pada pengalaman

b.      Kehidupan eksistensial

c.       Kepercayaan terhadap organisme sendiri

d.      Perasaan bebas

e.       Kreatifitas

4. Allport

Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat di kontrol dan dikuasai oleh tak sadar, kekuatan-kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi. Berikut ini adalah tujuh kriteria kepribadian yang matang:

1) Perluasan perasaan diri

2) Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain

3) Keamanan emosional

4) Persepsi realistis

5) Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas

6) Pemahaman diri

7) Filsafat hidup yang mempersatukan

5. Abraham Maslow (aliran humanistik)

Psikologi humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut psikologi humanistik manusia adalah mahluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri, bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.

Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Ada empat ciri psikologi yang berorientasi humanistik, yaitu:

a) Memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.

b) Mamberi tekanan pada kulaitas-kualitas yang khas manusia, seperti kreativitas, aktualisasi diri, sebagai lawan pandang tentang manusia yang mekanistis dan reduksionis.

c) Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masalah yang akan dipelajari dalan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.

d) Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada setiap individu.

6. Sigmun Freud (aliran psikoanalisis)

Freud pada awalnya memang mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebeb-sebab gangguan jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari permunculan dalam perilaku dan pikiran. Menurut teori psikoanalisa, inti dari keinginan dorongan ini adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual. Dan apabila dorongan-dorongan ini tidak dapat disalurkan, dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan juga mangganggu kesehatan mental yang disebut psikoneurosis. Dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” atau unconscious motivation, menguraikan ide kunci dari psikoanalisa. Psikolanalisa mempunyai metode untuk membongkar gangguan-gangguan yang terdapat dalam ketidaksadaran ini, antara lain dengan metode analisis mimpi dan metode asosiasi bebas.

7. Aliran behavioristik

Behaviorisme atau aliran perilaku (juga disebut perspektif belajar) adalah filososi dalam psikologi yang berdasar pada proporsi bahwa semua yang dilakukan organisme -termasuk tindakan, pikiran atau perasaan- dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotesis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).

Teori-teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi lingkungan belajar dalam menjelaskan perilaku. Semua bentuk tingkah laku manusia adalah hasil belajar yang bersifat mekanistik lewat proses penguatan. Pendekatan behavioristik terhadap kepribadian memiliki dua asumsi dasar, yaitu:

1) Perilaku harus dijelaskan dalam pengaruh kausal lingkungan terhadap diri.

2) Pemahaman terhadap manusia harus dibangun berdasarkan riset ilmiah objektif dan dikontrol dengan seksama dalam eksperimen laboratorium.


Nama : Ridhwan Fajar Kurniawan 

NIM : 20310410028

Dosen pengampu : Bapak Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A



Komentar